Blog EntryDISINI JIWAKUSep 24, '06 12:22 AM
for everyone

KEPANIKAN SEJATI                                                                   

 

Di padang  lapang

Kanan kiri ilalang, rerumputan, tumbuhan

Dan binatang.

Di istana pengadilan amal, Mahsyar rumah Tuhan.

 

Dikiri kulihat anjing mati

Yang dulu kukuburkan

Dikanan pohon waru

Yang dulu kusuburkan

Dibarisan itu berderet anak yatim piatu

Yang dulu ku sayAng-sayang.

 

Kutatap di depan

Cahaya berkilauan

Pastilah Nur kholifah yang benderang

Ahlul ba'it Rosullullah terpancar

Memenuhi hunian tak bersudut

Ratusan syuhada dan keluarga beliau berdampingan.

Kiranya aku berada diantara mereka bersamaan.

 

Masih kulihat lagi,

Mbok Rupi, penjaga dan pembersih makam.

Masih ada lagi,

Bang Kosim, penjual bakso keliling

Yang sering numpang sembahyang

Dan mereka semua yang pernah kukenal

Bertebaran pada baris-baris yang ditentukan.

 

Lalu,

Dimana aku.

Padahal semua ilmu telah kuamalkan.

Hartaku telah cukup ku zakatkan.

Aku cinta semua orang yang kesulitan

Dengan tangan kasihku

Kuabdikan hidup berpedoman Alqur’anul karim

Tak jua kutemukan rohku ditempatkan

 

Allah yang maha besar!

Mungkinkah pada rumput dan ilalang

Pernah kusulut api

Mungkinkah pada semut dan lalat

Pernah aku racuni

Mungkinkah ada seorang pengemis

Yang pernah aku caci

 

Hai, pada kalian yang disana

Ringankanlah kiri timbanagn amalku ini

dengan maafmu….

 

Titis-titis air mataku mengemis,

Di terminal ini.

Akhir kepanikan yang sejati

Sujudku, Ya Allah yang maha tinggi.

 

 

BINGKISAN LARA

 

Detik lalu kudengar mereka

Masih dengan canda

Mmendayung cerita tanpa resah

 

Minggu ini tak kudengar jeritanya

Tangis masal tertinggal

 

Aku menatap haus dinding pembatas

Dengan mata terlepas

Memunguti rindu yanghangus terkerat

 

Ku membisu dengan kepalan do’a

Tak tahu dari mana asal berita

Luka baru kembali terbuka

Negeri ini kembali berduka

 

Melihat canda mereka

Terampas

Melihat harapan-harapan mereka

Telah lepas, kandas, dan terhempas

Semua bingkisan dari Tuhan

Untuk perenungan

 

 

BOROBUDUR MENANGIS

 

Potretnya masih indah

Berdiri kokoh di pematang Yogya

Dipuja satu dari tujuh keajaiban dunia

 

Keindahan seribu tahun

Telah menyaksikan

 

Kini kekokohan remuk redam

Bersama puing luruh berjatuhan

Tanda ketuaan zaman

 

Dia telah merasakan

Getaran dari murka Tuhan

Menikam anak cucu,caca dan cicit

Dari manusia kurun zaman

Perancang boga indahnya

 

Kinipun disaksikan

Jika habis masa dari Tuhan

Diapun akan tenggelam

 

 

 

 

 

HANGGARA USAI SUBUH

 

Ibu…

Usaikah tugasmu hari ini

Di pasak do’a kugelantungkan bayangan

 

Ibu…

Mengapa kau biarkan

Air mata meniti mencarimu

Pilu…

 

Ibu…

Hatiku terhirit

Tak jua kutemui

Nasi yang sempat kau tanak

Kini basi meranak

 

Ibu…

Usaikah cintamu

Di telan  murka

Usai subuh

 

MERAJUT PETAKA

 

Di sabang kurasa kemarin sudah

Peti terukir adi sejarah

Anak bayi hilang petuah dan cinta

Dengan tangis memecah

 

Belum usai kami menambal duka di kepala

Kini lengannya tercabik sudah

Rumah kembali merata

Penghuni meninggalkan jasad saja

 

 

PANGKAT DALAM SURAT

 

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku…

Hai sejarah, aku tunjukkan

Goreskan darah rinduku,

Sisipkan pada buku-buku suram kecoklatan

Milik tanah pujaan

Dan bacalah gulungan-gulungan perih zamanku

sebagai pengaduan.dimasa datang

Hai sejarah, aku kabarkan

Dimana buah perjuangan?

Mereka kini jadi pahlawan

Tiap surat kabar memberitakan

Hak tertindas, bahkan nyawapun lepas.

Hai sejarah, perhatikan,

Dalam tangis pemberontakan moral

Dimana pangkat hanyalah slogan,

Dengan bintang- bintang gelap berkarat.

Hai sejarah, Coba rasakan

Banyak buruh ditanah orang

Mereka jadi budak kesulitan,

Dimana negerinya tak  lagi menjanjikan,

Tempat ketidak adilan

Berbungkam suap-suap berang

 

Sejarah, coba renungkan

Dimana dulu yang kau beritakan.

Adakah sama dengan mimpi pejuang

Merah putihku

Bukannkah generasi terukir

Dari apa yang kau catatkan,

Ini, aku bercerita pada sejarah tujuh zaman

Benulang puluhan zaman,

Mungkin t’lah berbalut tanah hitam,

Atau mungkin jadi batu perut bumi dan karang,

Saksi sejati kekejaman

Mimpi-mimpinya nyaris hilang.

Aku lahir di abad dua puluh satu

Dimana barang serba obral,

Human trafficking makin bebal,

Dan bencana selalu di tiang gantungan.

 

 

 

Sejarah aku juga jenderal perang di tanah orang,

Darahku hanyalah tumbal,

Keringat dan airmataku adalah senapan

Ku gores diatas robekan lara yang berbaris rentan.

 

Tanahku yang kucintai…

 engkau ku banggai....

 

Ini, suratku untukmu

Sejarah zaman sekarang..

 

 

 

 

 

 

 

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.