KEPANIKAN SEJATI
Di padang lapang 
Kanan kiri ilalang, rerumputan, tumbuhan
Dan binatang.
Di istana pengadilan amal, Mahsyar rumah Tuhan.
Dikiri kulihat anjing mati
Yang dulu kukuburkan
Dikanan pohon waru
Yang dulu kusuburkan
Dibarisan itu berderet anak yatim piatu
Yang dulu ku sayAng-sayang.
Kutatap di depan
Cahaya berkilauan
Pastilah Nur kholifah yang benderang
Ahlul ba'it Rosullullah terpancar
Memenuhi hunian tak bersudut
Ratusan syuhada dan keluarga beliau berdampingan.
Kiranya aku berada diantara mereka bersamaan.
Masih kulihat lagi,
Mbok Rupi, penjaga dan pembersih makam.
Masih ada lagi,
Bang Kosim, penjual bakso keliling
Yang sering numpang sembahyang
Dan mereka semua yang pernah kukenal
Bertebaran pada baris-baris yang ditentukan.
Lalu,
Dimana aku.
Padahal semua ilmu telah kuamalkan.
Hartaku telah cukup ku zakatkan.
Aku cinta semua orang yang kesulitan
Dengan tangan kasihku
Kuabdikan hidup berpedoman Alqur’anul karim
Tak jua kutemukan rohku ditempatkan
Allah yang maha besar!
Mungkinkah pada rumput dan ilalang
Pernah kusulut api
Mungkinkah pada semut dan lalat
Pernah aku racuni
Mungkinkah ada seorang pengemis
Yang pernah aku caci
Hai, pada kalian yang disana
Ringankanlah kiri timbanagn amalku ini
dengan maafmu….
Titis-titis air mataku mengemis,
Di terminal ini.
Akhir kepanikan yang sejati
Sujudku, Ya Allah yang maha tinggi.
BINGKISAN LARA
Detik lalu kudengar mereka
Masih dengan canda
Mmendayung cerita tanpa resah
Minggu ini tak kudengar jeritanya
Tangis masal tertinggal
Aku menatap haus dinding pembatas
Dengan mata terlepas
Memunguti rindu yanghangus terkerat
Ku membisu dengan kepalan do’a
Tak tahu dari mana asal berita
Luka baru kembali terbuka
Negeri ini kembali berduka
Melihat canda mereka
Terampas
Melihat harapan-harapan mereka
Telah lepas, kandas, dan terhempas
Semua bingkisan dari Tuhan
Untuk perenungan
BOROBUDUR MENANGIS
Potretnya masih indah
Berdiri kokoh di pematang Yogya
Dipuja satu dari tujuh keajaiban dunia
Keindahan seribu tahun
Telah menyaksikan
Kini kekokohan remuk redam
Bersama puing luruh berjatuhan
Tanda ketuaan zaman
Dia telah merasakan
Getaran dari murka Tuhan
Menikam anak cucu,caca dan cicit
Dari manusia kurun zaman
Perancang boga indahnya
Kinipun disaksikan
Jika habis masa dari Tuhan
Diapun akan tenggelam
HANGGARA USAI SUBUH
Ibu…
Usaikah tugasmu hari ini
Di pasak do’a kugelantungkan bayangan
Ibu…
Mengapa kau biarkan
Air mata meniti mencarimu
Pilu…
Ibu…
Hatiku terhirit
Tak jua kutemui
Nasi yang sempat kau tanak
Kini basi meranak
Ibu…
Usaikah cintamu
Di telan murka
Usai subuh
MERAJUT PETAKA
Di sabang kurasa kemarin sudah
Peti terukir adi sejarah
Anak bayi hilang petuah dan cinta
Dengan tangis memecah
Belum usai kami menambal duka di kepala
Kini lengannya tercabik sudah
Rumah kembali merata
Penghuni meninggalkan jasad saja
PANGKAT DALAM SURAT
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku…
Hai sejarah, aku tunjukkan
Goreskan darah rinduku,
Sisipkan pada buku-buku suram kecoklatan
Milik tanah pujaan
Dan bacalah gulungan-gulungan perih zamanku
sebagai pengaduan.dimasa datang
Hai sejarah, aku kabarkan
Dimana buah perjuangan?
Mereka kini jadi pahlawan
Tiap surat kabar memberitakan
Hak tertindas, bahkan nyawapun lepas.
Hai sejarah, perhatikan,
Dalam tangis pemberontakan moral
Dimana pangkat hanyalah slogan,
Dengan bintang- bintang gelap berkarat.
Hai sejarah, Coba rasakan
Banyak buruh ditanah orang
Mereka jadi budak kesulitan,
Dimana negerinya tak lagi menjanjikan,
Tempat ketidak adilan
Berbungkam suap-suap berang
Sejarah, coba renungkan
Dimana dulu yang kau beritakan.
Adakah sama dengan mimpi pejuang
Merah putihku
Bukannkah generasi terukir
Dari apa yang kau catatkan,
Ini, aku bercerita pada sejarah tujuh zaman
Benulang puluhan zaman,
Mungkin t’lah berbalut tanah hitam,
Atau mungkin jadi batu perut bumi dan karang,
Saksi sejati kekejaman
Mimpi-mimpinya nyaris hilang.
Aku lahir di abad dua puluh satu
Dimana barang serba obral,
Human trafficking makin bebal,
Dan bencana selalu di tiang gantungan.
Sejarah aku juga jenderal perang di tanah orang,
Darahku hanyalah tumbal,
Keringat dan airmataku adalah senapan
Ku gores diatas robekan lara yang berbaris rentan.
Tanahku yang kucintai…
engkau ku banggai....
Ini, suratku untukmu
Sejarah zaman sekarang..