Blog EntryCerpenFeb 25, '07 7:15 AM
for everyone

BILAH MATA HATI

 

Dua batang kuas masih digenggaman, aku diam memupuk kegelisahan yang hadir tanpa kusadari.Tak juga kutorehkan cat warna yang melekat hingga mengering, kertasku telah penuh, aku tak punya ruang lagi untuk menggambar luka ini. Ruas-ruas tak nampak menjadi bentuk yang tak kuketahui dimana aku mulai menggambar  tadi.

"Masih dengan perasaan itu , kau tak bosan?!", mataku masih memandang gelas keruh diatas meja tak peduli suara tegas menyapa.

"Percuma kau pandangi, dia takkan pernah bersih atau kau rela membuangnya." jemariku makin permainkan gelas yang penuh dengan campuran cat warna hingga membasahi gambarku acuhkan gertaknya.

"Gelas itu cinta pertamaku.", sergahku ringan dua menit dari diamku.

"Bah! aku letih dengan ngkapan cinta pertamamu.Dia yang membuatmu jatuh bangun penuh luka."

"Luka itu tak seberapa, aku sudah biasa."

Detikan alarm menemani keheningan mengalun bersama hembusan nafas panas mengisi kekosongan. Kuraih kembali gelas yang sempat tersisikan, menghempas punggung pada kursi jati berukir dadu membuatku lebih nyaman.

"Gelas itu bisa mematikanmu."suaranya kembali.

"Aku masih setia, tetap kagum padanya inilah bukti."

"Sungguh munafik, menangis dipersembunyian mengabadikan luka yang mendarah daging. Hanya sebuah gelas biasa yang bisa dipecahkan dengan berbagai cara, didapur masih banyak gelas cantik bahkan cangkir antik!"

Gelas biasa yang kukagumi bukanlah suatu yang kebetulan saja, darinya aku belajar bagaimana jatuh cinta.Tidakkah aku termasuk orang yang setia dengan tingkahnya selama ini, tapi mengapa semuanya tetap sama tanpa respon jelas bahwa aku yang terpilih. Tak sekali dua kali kulihat dia memanjakan gadis lain,  didepanku apalagi gadis itu temanku, kuberharap itu hanya candanya. Bola-bola kertas meriuh tertiup angin menggantikan jawab hatiku pada kekesalannya.

"Mana jalur setiamu!" suara yang tiba-tiba muncul memergoki rasa dalam diam.

"Kau tahu kesetiannmu itu tersesat! Mudahnya kau terima kembali dia dengan lapang dan kedua tangan yang lebar terbuka seolah tak terjadi apapun dilubukmu."

Senyumku sedikit mencibir, mengingatkanku pernah sakit seminggu ditambah tangis berhari-hari, saat itu cintaku masih mekar bersemi, dia mengabaikanku. Namun namanya tetap mengalir dalam detik nafasku kala ku ingat kembali perhatiannya yang secuil itu, seolah dia ingin menguji kesabaranku.

"Bukan dia yang harus menguji kesabaranmu tapi hanya Tuhan satu, anggapan itu hanyalah anggapan dekil. Pernahkah kau mendapatkan kasih sayang yang kau impikan darinya?, kasih sayang yang takkan pernah dia berikan untukmu. Kasih sayang semu darinya hanyalah impian kosongmu, ingat saat kau dicampakkan, direndahkan yang mengerti hanya dirimu sendiri!"

Mata pedasku mulai mengerdip, kusaksikan disekelilingku tak menyapa takut pada keberingasan amarahku. Tapi ku ingin tetap pada senyum dengan kelunglaianku.

"Kau yang selalu memintaku tuk ikuti langkahmu dan kau pula yang membuatku lelah."

Tarikan nafasku tak pedulikannya, bergeser pada cermin seukuran pintu di sudut ruang, sosokku yang tak bergairah seharian ini.Cermin itu tak pernah menipu, Jasatku yang kuyu mencoba tegar , jasat itu tak berguna karena hanya aku yang bisa membuatnya berguna

Pucat pasih kudapati bayangan yang tak sesegar minggu lalu, aku tak kuasa dengan dalihku, semua mengalir tanpa kendali yang kuat.

"Lihat!, dimana perasaanmu kau hanya bisa menghadirkan tangis padanya, mengotori mata indah dan halus pipinya."

"Tapi aku sungguh-sungguh menyukainya!"

"Aku lelah...lelah mendampingimu. Mana yang terbaik dari dia! Ketampanannya, tegap perkasa tubuhnya, dasyat rayuannya atau dia jago judi idaman gadis-gadis hipersex."

"Ku ingin menyadarkannya, tak bolehkah?"

"Boleh, tentu saja boleh...!, tapi sejauh mana kemampuanmu?, dengan kasih sayang dan keikhlasan budi yang kau miliki .Hah...!!, konyol... sungguh konyol!, dia tipe pria yang tak butuh orang-orang yang lembut, penyabar apalagi suka bertuah sepertimu, semua yang kau lakukan sia-sia, dengarkan sia...sia!"

"Aku hanya ingin..."

"sudahlah, semua yang kau ungkap hanya  keinginan pribadimu, kau tak membayangkan orang lain lebih menyayangimu, mereka takkan menerima dengan kemauanmu yang .....NORAK!!"

Andai saat ini aku mampu membuatnya lebih baik, ketenangan itu, mungkin akan kudapatkan tak perlu aku lebih panjang lagi berfikir tentangnya.

"Apa kau dapat menerima saat kau dapati dia lebih menyakitimu, dasar pemimpi!"

"Aku tak bisa melepaskannya!"

"Semua tergantung usahamu, dan usaha itu yang kan membebaskanmu dari belenggunya, jangan pernah memaksakan hasrat hingga memeloroti imanmu satu bagian ke bagian yang lain hingga kau telanjang."

"Kurang pantaskah aku untuknya?"

"Bahkan tidak pantas, mendapatkan apa yang terbaik dari dirimu adalah keunungan besar baginya."

Langit merah mengintip dari balik jendela yang sedikit terbuka. Aku enggan utarakan perasaanku yang dangkal. Jiwa bergejolak membayang ketakutan namun tertentang kerasnya kemauan yang seharusnya kukalahkan.Aku tak dapat menipu diri bahwa aku masih menyukainya dan kembali ingin bertanya ataukah aku tak sesuai keinginannya.

"Kau masih dengan pikiran itu, aku jenuh denganmu. Jangan pernah kau menyesuaikan diri untuknya atau kau akan kehilangan yang lebih istimewa."

Mungkin benar, apa yang tak sesuai atau tak pantas untuknya masih pantas dan sesuai untuk orang lain, sanggupkah aku, padahal segalanya tak mudah tetepi.

"Pria baik-baik masih banyak yang menginginkanmu, pilih satu dari mereka jangn dia."

"Aku harus bagaimana?"

Sesaat terdengar kricikan air dari kamar sebelah, gaduh diluar dan suara burung yang mulai pulang kini terdengar, jantungku berdetak alirkan kembali darahku yang seolah terhenti. Kuamati kembali kertasku yang berserak dilantai dan dimeja, kuingin lakukan yang lebih baik dari angan-angan ini, kutengok kuas dan cat yang berhamburan.Gambar itu tetap tak beraturan.

"Lain kali buat gambar yang lebih bagus dan bingkai indah sehingga tampak nilainya."

"aku belum bisa melupakannya."

"Sudahlah aku bosan."

"Dia masuk dalam urat-uratku."

"Tapi dia milik orang lain."

"Iya...aku tahu."

"Bayangkan anak isteri dirumah tak diurusnya."

"Bener juga!!"

"Masih kerasjuga, berikan sedikit rasa kasihanmu padaku, akalmu yang setia."

"Kan kucoba"

"Dasar hati, kemana?"

"Bersuci, Menghapar sajadah!"

 

_________@@@__________

 Tseung Kwan O, November

 

 

 


winakarnie76 wrote on Mar 25, '07

BILAH MATA HATI

 

Dua batang kuas masih digenggaman, aku diam memupuk kegelisahan yang hadir tanpa kusadari.Tak juga kutorehkan cat warna yang melekat hingga mengering, kertasku telah penuh, aku tak punya ruang lagi untuk menggambar luka ini. Ruas-ruas tak nampak menjadi bentuk yang tak kuketahui dimana aku mulai menggambar  tadi.

"Masih dengan perasaan itu , kau tak bosan?!", mataku masih memandang gelas keruh diatas meja tak peduli suara tegas menyapa.

"Percuma kau pandangi, dia takkan pernah bersih atau kau rela membuangnya." jemariku makin permainkan gelas yang penuh dengan campuran cat warna hingga membasahi gambarku acuhkan gertaknya.

"Gelas itu cinta pertamaku.", sergahku ringan dua menit dari diamku.

"Bah! aku letih dengan ngkapan cinta pertamamu.Dia yang membuatmu jatuh bangun penuh luka."

"Luka itu tak seberapa, aku sudah biasa."

Detikan alarm menemani keheningan mengalun bersama hembusan nafas panas mengisi kekosongan. Kuraih kembali gelas yang sempat tersisikan, menghempas punggung pada kursi jati berukir dadu membuatku lebih nyaman.

"Gelas itu bisa mematikanmu."suaranya kembali.

"Aku masih setia, tetap kagum padanya inilah bukti."

"Sungguh munafik, menangis dipersembunyian mengabadikan luka yang mendarah daging. Hanya sebuah gelas biasa yang bisa dipecahkan dengan berbagai cara, didapur masih banyak gelas cantik bahkan cangkir antik!"

Gelas biasa yang kukagumi bukanlah suatu yang kebetulan saja, darinya aku belajar bagaimana jatuh cinta.Tidakkah aku termasuk orang yang setia dengan tingkahnya selama ini, tapi mengapa semuanya tetap sama tanpa respon jelas bahwa aku yang terpilih. Tak sekali dua kali kulihat dia memanjakan gadis lain,  didepanku apalagi gadis itu temanku, kuberharap itu hanya candanya. Bola-bola kertas meriuh tertiup angin menggantikan jawab hatiku pada kekesalannya.

"Mana jalur setiamu!" suara yang tiba-tiba muncul memergoki rasa dalam diam.

"Kau tahu kesetiannmu itu tersesat! Mudahnya kau terima kembali dia dengan lapang dan kedua tangan yang lebar terbuka seolah tak terjadi apapun dilubukmu."

Senyumku sedikit mencibir, mengingatkanku pernah sakit seminggu ditambah tangis berhari-hari, saat itu cintaku masih mekar bersemi, dia mengabaikanku. Namun namanya tetap mengalir dalam detik nafasku kala ku ingat kembali perhatiannya yang secuil itu, seolah dia ingin menguji kesabaranku.

"Bukan dia yang harus menguji kesabaranmu tapi hanya Tuhan satu, anggapan itu hanyalah anggapan dekil. Pernahkah kau mendapatkan kasih sayang yang kau impikan darinya?, kasih sayang yang takkan pernah dia berikan untukmu. Kasih sayang semu darinya hanyalah impian kosongmu, ingat saat kau dicampakkan, direndahkan yang mengerti hanya dirimu sendiri!"

Mata pedasku mulai mengerdip, kusaksikan disekelilingku tak menyapa takut pada keberingasan amarahku. Tapi ku ingin tetap pada senyum dengan kelunglaianku.

"Kau yang selalu memintaku tuk ikuti langkahmu dan kau pula yang membuatku lelah."

Tarikan nafasku tak pedulikannya, bergeser pada cermin seukuran pintu di sudut ruang, sosokku yang tak bergairah seharian ini.Cermin itu tak pernah menipu, Jasatku yang kuyu mencoba tegar , jasat itu tak berguna karena hanya aku yang bisa membuatnya berguna

Pucat pasih kudapati bayangan yang tak sesegar minggu lalu, aku tak kuasa dengan dalihku, semua mengalir tanpa kendali yang kuat.

"Lihat!, dimana perasaanmu kau hanya bisa menghadirkan tangis padanya, mengotori mata indah dan halus pipinya."

"Tapi aku sungguh-sungguh menyukainya!"

"Aku lelah...lelah mendampingimu. Mana yang terbaik dari dia! Ketampanannya, tegap perkasa tubuhnya, dasyat rayuannya atau dia jago judi idaman gadis-gadis hipersex."

"Ku ingin menyadarkannya, tak bolehkah?"

"Boleh, tentu saja boleh...!, tapi sejauh mana kemampuanmu?, dengan kasih sayang dan keikhlasan budi yang kau miliki .Hah...!!, konyol... sungguh konyol!, dia tipe pria yang tak butuh orang-orang yang lembut, penyabar apalagi suka bertuah sepertimu, semua yang kau lakukan sia-sia, dengarkan sia...sia!"

"Aku hanya ingin..."

"sudahlah, semua yang kau ungkap hanya  keinginan pribadimu, kau tak membayangkan orang lain lebih menyayangimu, mereka takkan menerima dengan kemauanmu yang .....NORAK!!"

Andai saat ini aku mampu membuatnya lebih baik, ketenangan itu, mungkin akan kudapatkan tak perlu aku lebih panjang lagi berfikir tentangnya.

"Apa kau dapat menerima saat kau dapati dia lebih menyakitimu, dasar pemimpi!"

"Aku tak bisa melepaskannya!"

"Semua tergantung usahamu, dan usaha itu yang kan membebaskanmu dari belenggunya, jangan pernah memaksakan hasrat hingga memeloroti imanmu satu bagian ke bagian yang lain hingga kau telanjang."

"Kurang pantaskah aku untuknya?"

"Bahkan tidak pantas, mendapatkan apa yang terbaik dari dirimu adalah keunungan besar baginya."

Langit merah mengintip dari balik jendela yang sedikit terbuka. Aku enggan utarakan perasaanku yang dangkal. Jiwa bergejolak membayang ketakutan namun tertentang kerasnya kemauan yang seharusnya kukalahkan.Aku tak dapat menipu diri bahwa aku masih menyukainya dan kembali ingin bertanya ataukah aku tak sesuai keinginannya.

"Kau masih dengan pikiran itu, aku jenuh denganmu. Jangan pernah kau menyesuaikan diri untuknya atau kau akan kehilangan yang lebih istimewa."

Mungkin benar, apa yang tak sesuai atau tak pantas untuknya masih pantas dan sesuai untuk orang lain, sanggupkah aku, padahal segalanya tak mudah tetepi.

"Pria baik-baik masih banyak yang menginginkanmu, pilih satu dari mereka jangn dia."

"Aku harus bagaimana?"

Sesaat terdengar kricikan air dari kamar sebelah, gaduh diluar dan suara burung yang mulai pulang kini terdengar, jantungku berdetak alirkan kembali darahku yang seolah terhenti. Kuamati kembali kertasku yang berserak dilantai dan dimeja, kuingin lakukan yang lebih baik dari angan-angan ini, kutengok kuas dan cat yang berhamburan.Gambar itu tetap tak beraturan.

"Lain kali buat gambar yang lebih bagus dan bingkai indah sehingga tampak nilainya."

"aku belum bisa melupakannya."

"Sudahlah aku bosan."

"Dia masuk dalam urat-uratku."

"Tapi dia milik orang lain."

"Iya...aku tahu."

"Bayangkan anak isteri dirumah tak diurusnya."

"Bener juga!!"

"Masih kerasjuga, berikan sedikit rasa kasihanmu padaku, akalmu yang setia."

"Kan kucoba"

"Dasar hati, kemana?"

"Bersuci, Menghapar sajadah!"

 

_________@@@__________

 Tseung Kwan O, November

 

 

 

semangat terus, cerpen yg ini bagus.. tris...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.